Katakanlah penjualan (omzet) Anda dalam satu tahun ini sebesar 2 miliar, dan Anda prediksikan tahun depan akan meningkat 50%, sehingga pendapatan Anda tahun depan akan menjadi 3 miliar. Dari penjualan tersebut Anda memperoleh marjin keuntungan sebesar 30%, dengan kata lain harga pokok penjualan (HPP) Anda sebesar 70%.

Misalnya, saat ini Anda memiliki piutang dagang sebesar Rp 400.000.000,00, dengan rata-rata umur piutang 60 hari atau dua bulan (atau perputaran piutang rata-rata 6 kali dalam setahun), persediaan barang dagangan (inventori) 36 hari (atau rata-rata lamanya barang tersimpan di gudang selama 36 hari sehingga perputarannya dalam setahun sebanyak 10 kali).

Biaya operasional (gaji, pemasaran, sewa kantor dan sebagainya) Anda dalam setahun ini sebesar Rp 500.000.000,00, dan tahun depan naik 10% mengikuti inflasi. Saat ini uang tunai yang Anda miliki hanya sebesar Rp 50.000.000,00, sementara Anda masih punya hutang dagang ke supplier Anda sebesar Rp 500.000.000,00. Modal kerja yang akan Anda perlukan untuk setahun ke depan kira-kira sebagai berikut:

  • Modal kerja Anda saat ini sesungguhnya sebesar Rp 800.000.000,00, yaitu dari Rp 400.000.000,00 (piutang) + Rp 350.000.000,00 (inventor) + Rp 50.000.000,00 (uang tunai).
  • Karena Anda memiliki kewajiban hutang dagang yang harus segera dibayar sebesar Rp 500.000.000,00, maka modal kerja bersih Anda menjadi sebesar Rp 300.000.000,00, yaitu Rp 800.000.000,00 dikurangi Rp 500.000.000,00.
  • Rata-rata uang Anda tertanam di modal kerja selama 96 hari, yaitu 60 hari dalam bentuk piutang, dan 36 hari dalam bentuk inventori. Jika diasumsikan 1 tahun sama dengan 360 hari, maka rata-rata uang Anda tertanam dalam modal kerja selama 0,267 miliar, dengan rincian sbb:
  • Pengadaan barang (HPP) sebesar 70% x Rp 3 miliar = Rp 2,10 miliar.
  • Biaya operasional sebesar 110% x Rp 500 juta = Rp 0,55 miliar.
  • Dari total pengeluaran tersebut di atas yang akan tertanam pada modal kerja (dalam bentuk piutang, inventori dan uang tunai) adalah sebesar 706,67 juta yaitu 2,65 miliar x 0,267 tahun.
  • Katakanlah tahun depan Anda tidak lagi mendapatkan fasilitas pembelian secara kredit supplier Anda, maka dengan demikian kebutuhan tambahan modal kerja Anda sebesar 406,67 juta, yaitu 706,67 juta (kebutuhan modal kerja dalam setahun) dikurangi dengan 300 juta (modal kerja bersih yang Anda miliki saat ini).

Dengan memahami perhitungan modal kerja perdagangan di atas, sesungguhnya Anda juga dapat menghitung kebutuhan modal kerja untuk sektor lainnya dengan sedikit memodifikasi sesuai dengan nature of business-nya. Misalnya untuk menghitung kebutuhan modal kerja untuk industri (bisnis pengolahan), maka Anda tinggal menambahkan besarnya masing-masing inventori bahan baku dan pendukungnya , serta barang setengah jadi (work in process), dan berapa lama barang-barang itu tersimpan di gudang atau dalam proses pengerjaannya.

Contoh lain, apabila bisnis Anda adalah eksportir barang-barang dagangan, maka waktu yang Anda gunakan untuk pengumpulan barang dagang dan besarnya nilai barang dagangan yang akan diekspor akan menjadi penentu dalam perhitungan modal kerja Anda. Selain itu, fasilitas modal kerja yang Anda perlukan juga berbeda dengan perdagangan biasa, yaitu biasanya Anda dapat menggunakan fasilitas modal kerja preshipment financing dari bank. Jika bisnis Anda sudah cukup besar dan untuk mengurangi risiko dalam ekspor, Anda pun dapat memperoleh fasilitas post-shipment financing dengan mensyaratkan importer Anda membuka Letter of Credit (L/C).

Contoh lain yang sangat berbeda, apabila bisnis Anda pada bidang pertanian yang banyak membutuhkan modal kerja untuk membiayai pemupukan, perawatan tanaman, dan upah tenaga kerjanya selama tanaman belum menghasilkan. Tentu Anda membutuhkan jenis modal kerja yang khusus pula, misalkan modal kerja yang memungkinkan Anda cukup membayar bunga selama masa tanaman belum menghasilkan, atau bahkan bila perlu bunga yang seharusnya bayar dikapitalisir lagi menjadi pokok pinjaman baru (istilah dalam perkreditan disebut interest during construction/idc.)

Di sisi lain yang, bank atau lembaga pembiayaan ada yang telah suka memberikan fasilitas pinjaman dengan sistem angsuran tetap (installment), apa pun jenis Anda. Kredit atau pembiayaan modal kerja dengan cara installment ini pada umumnya yang nilainya kurang dari 500 juta, atau yang tergolong dalam kategori kredit mikro. Analisa finansial terhadap kebutuhan modal kerja Anda pun dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, dengan mengadopsi analisa pinjaman konsumtif. Pada umumnya analisa dilakukan secara terbalik bukan berapa kebutuhan modal kerja Anda, tetapi direkankan pada berapa kemampuan Anda dalam mengangsur setiap bulan? Berikut ini adalah contoh perhitungan kebutuhan modal kerja usaha mikro dan kecil.

Judul Buku: Cara Cepat dapat Modal, Penulis: Supriyono Soekarno, Halaman: 41-44.