Deretan artikel yang dimulai dengan judul Senyum CU, merupakan saduran dari buku “Sambil Tersenyum Memahami Credit Union” karangan P. Florus (1999).

Para pegawai sebuah C.U. Bersepakat membuat pakaian seragam. “Supaya tampil lebih indah, trendy dan gagah,” kata mereka. Maka jadilah mereka seperti para pegawai di sebuah bank milik negara. Tampil dalam satu warna, satu gaya. Lengkap dengan dasi, tanda pengenal dan sepatu mengkilap.

Seragam lebih bagus? Tergantung dari ukuran apa yang dipakai untuk menilainya. Kita juga boleh bilang bahwa aneka ragam justru lebih bagus.

Pakaian seragam tentu bukan sekedar pakaian, karena dengan itu suatu kelompok orang ingin menyatakan bahwa mereka adalah kelompok khusus, terpisahkan dari orang lain, kompak menghadapi orang luar, bersikap sama dan satu komando.

Kembali ke kisah para pegawai C.U. Berpakaian seragam itu tadi. Sepintas kilas memang tidak tampak ada buruknya. Tetapi setelah para anggota yang memang orang-orang sederhana ditanyai, maka buruknya terungkap. “Kami takut dan malu berhadapan dengan mereka. Seperti berurusan dengan pegawai birokrat. Rasanya, mereka bukan lagi sesama kita.”

Nah, ‘kan?! Apalagi bila pakaian seragam lebih dipentingkan dibanding tubuh yang dibungkusnya dan kemampuan melayani anggota.

Judul Buku: Sambil Tersenyum Memahami Credit Union, Penulis: P. Florus, Halaman: 104.